EXHIBITOR SECTORS

showcase image

INDONESIA FOOD & BEVERAGE EXPO

Produk industri makanan dan minuman Indonesia sangat berpotensi untuk menembus pasar ekspor ke Arab Saudi lebih besar lagi. Menurut Aviliani, Pemerintah Indonesia harus segera memanfaatkan momentum perluasan kerjasama ekonomi dengan Arab Saudi yang semakin terbuka pasca kunjungan Raja Salman bin Abdul-Aziz al Saud di Indonesia, termasuk untuk industri makanan dan minuman Indonesia. Peluang ini semakin terbuka mengingat kerajaan tersebut juga mensyaratkan kehalalan produk makanan dan minumannya.

Peluang kerjasama ekspor makanan dan minuman Indonesia ke Arab Saudi ini memiliki pasar yang sangat potensial, paling tidak, dari jamaah haji dan umroh Indonesia ke Arab Saudi yang jumlahnya semakin meningkat setiap tahun. Belum lagi pangsa pasar yang berasal dari warga Indonesia yang bekerja di negara tersebut. Pada periode Januari Maret 2017, produk makanan dan minuman olahan Indonesia berhasil diekspor senilai USD5.958.068. Pada periode yang sama tahun 2016, nilai ekspor produk ini mencapai USD6.379.922.

showcase image

INDONESIA COFFEE, CACAO & TEA EXPO

Di Arab Saudi, teh dan kopi dianggap sebagai minuman nasional dan disajikan pada acara-acara sosial dan bisnis. Pelarangan yang ketat terhadap minuman beralkohol membuat permintaan terhadap teh dan kopi terus meningkat. Warga Arab Saudi meminum teh 3 - 6 gelas per hari dan diminum oleh semua segmen masyarakat. Sementara kopi lebih dianggap sebagai minuman ‘lelaki’.

Indonesia, pada periode Januari - Maret 2017, mengekspor kopi ke Arab Saudi senilai USD114,062, terjadi peningkatan sebesar 487,95% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2016 yang mencapai nilai USD19,400 (data ITPC - Jeddah).

Sementara untuk teh, pada tahun 2015, Indonesia mengekspor ke Arab Saudi senilai USD3,685,300 dengan berat 1,896 ton (data BPS).

showcase image

INDONESIA PALM OIL EXPO

Saudi Arabia mengimpor seluruh kebutuhan minyak sawit (palm oil) - nya dari luar negeri. Berdasarkan data US Department of Agriculture, sejak tahun 2011, impor minyak sawit Arab Saudi menunjukkan angka yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2016, angka impor minyak sawit mencapai 420.000 MT atau meningkat sebesar 0,96% dari tahun 2015. Pada tahun 2017, angka impor minyak sawit ke Arab Saudi diperkirakan mencapai 450.000 MT atau terjadi peningkatan sebesar 7,14% dari tahun sebelumnya. Kecenderungan peningkatan impor minyak sawit ke negara tersebut seiring dengan kebijakan pemerintahnya yang mulai mengurangi ketergantungan perekonomian pada sektor migas dengan cara memacu sektor non migas diantaranya sektor industri yang membutuhkan bahan baku minyak sawit.

Sementara, Indonesia sebagai salah satu negara penghasil minyak sawit dunia memiliki kebijakan untuk melakukan ekstensifikasi ekspor minyak sawit ke negara lain, disamping negara - negara yang telah menjadi tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia, yaitu: India, Tiongkok, Pakistan, Belanda, Malaysia, Mesir, dan Bangladesh. Sekarang ini, Indonesia tengah menargetkan dapat memproduksi minyak sawit (CPO) hingga 40 juta ton pada tahun 2020. Dalam rangka memperluas pasar ekspor minyak sawit tersebut, Arab Saudi dapat menjadi pertimbangan untuk dijadikan negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia.

showcase image

INDONESIA STRATEGIC INDUSTRIES EXPO

Industri strategis Indonesia kini mulai bangkit dan memperkenalkan berbagai produk strategis unggulan kepada dunia internasional melalui berbagai kesempatan yang diikuti industri strategis baik yang berskala nasional maupun internasional. Banyak negara yang telah mengakui produk strategis Indonesia yang dewasa ini mulai mengembangkan sayap pemasaran ke luar negeri setelah terpaksa terpuruk pada tahun 1998.

PT. Dirgantara Indonesia, misalnya, hingga 11 September 2016 telah berhasil mengekspor produknya ke 11 negara sebanyak 396 unit pesawat terbang. Sementara pada tahun 2017, industri strategis ini mengekspor 11 pesawat lagi ke negara lain. PT. Pindad pun mengukir prestasi dengan berhasil menjual berbagai produknya ke manca negara. Timur Tengah bahkan menjadi target pasar penting bagi PT. Pindad, di samping Afgrika dan sebagian negara Asia dalam mengembangkan sayap pemasarannya. Industri strategis Indonesia lainnya pun mulai bangkit dan mengembangkan sayap pemasarannya ke manca negara.

Dalam hal pemasaran alutsista maka dapat digarisbawahi bahwa Arab Saudi adalah negara pengimpor senjata terbesar ke dua di dunia setelah India, terlebih setelah negara itu akan menyetop suplai senjatanya dari Jerman. Dalam lima tahun terakhir ini, belanja persenjataan Arab Saudi meningkat 275% yang diantaranya dipicu oleh konflik di Suriah dan Yaman. Jenis impor terdiri dari kendaraan lapis baja, helikopter, jet tempur dan senapan serbu. Pada beberapa jenis produk ini, produk alutsista Indonesia telah memiliki prestasi dan diakui internasional.

Oleh karena itu, melalui INDONESIA EXPO – JEDDAH, diharapkan industri strategis Indonesia dapat turut memanfaatkan kesempatan pameran tunggal Indonesia ini untuk memperkenalkan sekaligus menawarkan produk-produk industri strategisnya.

showcase image

INDONESIA FURNITURE & CRAFT EXPO

Furnitur masuk ke dalam 10 besar komoditi ekspor Indonesia ke Arab Saudi yang memiliki potensi pengembangan yang cukup besar baik dari segi nilai maupun jenis furniturnya. Saat ini Indonesia mengekspor ke Arab Saudi lebih dari 50 jenis furnitur, mulai dari HS 94011000 sampai dengan 94049090. Di samping untuk kebutuhan rumah tangga, potensi serapan furnitur Indonesia di Arab Saudi juga berasal dari sektor perhotelan yang terus bermunculan seiring peningkatan jumlah kunjungan jamaah umroh dan haji dari seluruh dunia termasuk Indonesia.

Pasar furnitur di Arab Saudi terus mengalami peningkatan yang nilainya di atas USD350 juta setiap tahun dan Indonesia baru bisa memanfaatkan pasar tersebut di bawah 5%. Produk furnitur Indonesia di Arab Saudi masih kurang dikenal dibandingkan dengan furnitur dari negara lain seperti Malaysia, China, Taiwan, dll. Malaysia dan China merupakan kompetitor produk furnitur Indonesia baik dari segi desain maupun harga namun ke dua negara pesaing tersebut lebih agresif melakukan promosi sehingga produknya lebih dikenal ketimbang produk dari Indonesia.

Di sisi lain, banyak pengusaha furnitur Arab Saudi, terutama furnitur dari kayu, yang melirik Indonesia sebagai basis produksi nya yang memungkinkan dapat terjadi kerjasama usaha antara pengusaha furnitur Indonesia dan Arab Saudi. Melalui INDONESIA EXPO - JEDDAH 2018, diharapkan dapat di promosikan produk furnitur Indonesia dan dapat terjadi kerjasama usaha di bidang industri furnitur antara Indonesia dan Arab Saudi.

showcase image

INDONESIA FISHERIES & SEAWEED EXPO

Komoditi perikanan dan rumput laut memiliki prospek ekspor yang sangat bagus ke Arab Saudi. Hal ini telah dijembatani oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), cq. Pusat Analisis Kerjasama Internasional dan Antar Lembaga, yang telah bekerjasama dengan perbankan Arab Saudi dalam penyediaan serta fasilitas distribusi ikan bagi eksportir ikan Indonesia ke Arab Saudi, termasuk fasilitas pembiayaan untuk budidaya ikan di Indonesia. Salah satu perbankan yang telah menyatakan komitmennya dalam hal ini adalah Albaraka Bank dari Arab Saudi yang akan memfasilitasi untuk mendistribusikan produk perikanan Indonesia ke supermarket yang memiliki jaringan di Arab Saudi dan ke negara Timur Tengah lainnya.

Dalam rangka membuka pasar komoditi perikanan lebih luas lagi di Arab Saudi, Konsulat Jenderal RI - Jeddah dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah, telah memfasilitasi pertemuan delegasi dagang Indonesia (bidang perikanan) dengan perusahaan di Arab Saudi agar pangsa pasar komoditi ini dapat semakin besar. Besarnya permintaan dan potensi kelautan dan perikanan Indonesia yang cukup tinggi akan mendukung kontinuitas pasokan komoditi perikanan dan kelautan Indonesia ke Arab Saudi.

Adapun komoditas utama Indonesia ke Arab Saudi saat ini adalah ikan tuna, cakalang, dan tongkol dengan nilai mencapai USD 56 juta. Komoditi ekspor perikanan dan kelautan lainnya yang juga memiliki prospek bagus adalah ikan olahan udang, sarden, ikan hias yang saat ini nilai ekspornya mencapai USD 10 juta.